Di Sini Aku Temukan Kau: Karya dan Arsip Sanggarbambu

Pameran Di Sini Aku Temukan Kau: Karya dan Arsip Sanggarbambu  menampilkan karya-karya dari fase emas Sanggarbambu, di antaranya 40-an lukisan cat minyak, dan puluhan sketsa dari era 50-an hingga 70-an.  Karya-karya tersebut dimiliki sejumlah kolektor pribadi maupun negara yang berhasil dihimpun untuk memperlihatkannya pada publik bahwa, kita pernah memiliki komunitas yang bahu-membahu mengembangkan dan mempraktikkan seni modern dengan cara mereka. Kini Sanggarbambu menjadi sebuah lanskap tempat di mana kita dapat menikmati karya-karya anggotanya, dan sekaligus belajar dari sana.

Sanggarbambu merupakan komunitas seni yang hadir sebagai gerakan alternatif di tengah polarisasi sosial pada era 1950-an hingga 1980-an. Pada masa itu, masyarakat Indonesia diarahkan untuk hidup dalam bingkai politik, mula-mula dengan slogan “politik sebagai panglima”, lalu pada dekade 1970–1980-an di bawah Orde Baru dengan jargon “stabilitas politik” serta “ekonomi sebagai panglima”. Dalam kondisi tersebut, Sanggarbambu memilih jalannya sendiri dengan cara yang khas. Sejak awal berdirinya, mereka aktif mendekati masyarakat melalui pameran, pertunjukan teater, dan kegiatan sastra yang digelar di kota-kota kecil Jawa. Alih-alih menyasar pusat kebudayaan, Sanggarbambu justru bergerak di daerah pinggiran arus kebudayaan seperti Brebes, Balapulang, Purwokerto, Tegal, Sumenep, Madura, dan sejumlah kota kecil lainnya.

Seniman: Danarto, Darmadji, Handogo Soekarno, Irsam, Kuswandi, Mulyadi W., Muryoto Hartoyo, Soeharto Pr., Soenarto Pr., Supono Pr., Suwartono, Syahwil, dan Titis Jabaruddin.

The exhibition “Di Sini Aku Temukan Kau: Karya dan Arsip Sanggarbambu” showcases pieces from the golden age of Sanggarbambu, featuring 40 oil paintings and numerous sketches created between the 1950s and 1970s. These artworks, collected by various private and state collectors, serve to highlight a vibrant community that collaborated to develop and practice modern art in their own distinctive manner. Today, Sanggarbambu stands as a venue where we can appreciate the works of its members and gain insights from them.

Sanggarbambu emerged as an art community during a time of social polarization in Indonesia, spanning the 1950s to the 1980s. During this period, Indonesian society was guided by a political framework that began with the slogan “politics as commander” and later shifted in the 1970s and 1980s under the New Order to emphasize “political stability” and “economy as commander.” In response to these circumstances, Sanggarbambu charted its own unique course, actively engaging with the community through exhibitions, theater performances, and literary events held in smaller towns across Java. Rather than focusing on cultural centers, Sanggarbambu deliberately reached out to areas on the fringes of the cultural mainstream, including places like Brebes, Balapulang, Purwokerto, Tegal, Sumenep, Madura, and several other small towns.

02 Oktober 2025 – 07 Desember 2025

Kurator: Asikin Hasan & Suwarno Wisetrotomo

Galeri Salihara

Jl. Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta 12520

Pembukaan: Kamis, 02 Oktober 2025, 18:30 WIB

Pameran:  03 Oktober-07 Desember 2025

Tiket

Rp25.000 (Selasa -Jumat)

Rp35.000 (Sabtu – Minggu)

Anak & Pelajar (maksimal S1) gratis, sila datang langsung.

Jam operasional:

Selasa-Minggu, 11:00-19:00 WIB

*Kunjungan terakhir pada 18:30 WIB

Total
0
Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

UOB Indonesia proudly presents the 15th UOB Painting of the Year (POY) Awarding Ceremony

Next Post

Wirantawan’s Cosmic Eye

Related Posts