Jika medan seni menjadi membosankan karena seperti sebuah lampu silau yang mempesona ribuan laron, apakah kita perlu matikan lampu itu agar dapat melihat apa yang hilang? Atau perlukah kita menyalakan beragam lampu lain?_
Mengapa seni bisa nampak hebat dan bagus? Apakah ada kaitannya dengan status sosial atau itu upaya penyeragaman selera? Atau itu cerminan ideologi kelas dominan yang sedang mencipta legitimasinya? Apakah seni yang berharga itu sedang menjebak? Ataukah seni perlu kembali jadi sumber daya kolektif untuk keberlanjutan dan manfaat bersama?
Kelas diskusi reflektif Serambi Pirous:
*“Estetika yang Menipu, Nilai Sosial yang Mengungkap”*
Membaca seni melalui Bourdieu, Marx, Baudrillard, dan Ostrom.
Dipandu oleh Iwan Pirous dan tim Serambi Pirous.
*Kamis, 2 Oktober 2025, pukul 13.00–15.00 WIB, di Galeri Serambi Pirous, Bandung*
Terbuka untuk umum, gratis, terbatas untuk 30 peserta. Silahkan mendaftar dengan mengisi link formulir di bit.ly/DR-SP-Estetika
If the art scene becomes monotonous, resembling a dazzling light that attracts countless moths, should we extinguish that light to reveal what is lacking, or should we illuminate diverse perspectives? What makes art appear magnificent and beautiful? Is it tied to social status or an effort to standardize taste? Could it be a reflection of the ideology of the ruling class that seeks to legitimize itself? Is esteemed art confining our perception, or should it transition back into a collective resource that promotes sustainability and mutual benefit?
Join the Serambi Pirous reflective discussion class:
“Deceptive Aesthetics, Revealing Social Values”
exploring art through the lenses of Bourdieu, Marx, Baudrillard, and Ostrom.
Hosted by Iwan Pirous and the Serambi Pirous team.
Date: Thursday, October 2, 2025
Time: 1:00–3:00 p.m. WIB
Location: Galeri Serambi Pirous, Bandung
This event is open to the public, free of charge, but limited to 30 participants. Please register by completing the form at bit.ly/DR-SP-Estetika.